Nanananaa... nunununuu... suara gitar menyanyi merdu. Awali hari itu dengan irama melodi senju senja. "tes tes eghem" lagaknya nge-tes suaranya yg amburadul. Masih pagi memang. Suara burung yg masih riuh berkicau pertanda matahari belum naik. Dengan semangat lebih hari itu menderu hatinya. Ya, lagi lagi karena wanita itu. Sepertinya akhir akhir ini iyan merasa senang dan lebih semangat. Ntah apa yg dirasanya ia pun juga belum mengerti sepenuhnya.
"Jikaa..." fals pikirnya. Dicoba lagi "jiikaaa.." kurang tinggi lanjutnya. Lalu "jikaaaa... hah" susah banget lah suaranya. Bruukkk''' suara gitar ditaruhnya. Tak pikir panjang lagi langsung cuss berangkat lagi. Kerja kerja kerja. Kaya makan aja sampe tiga kali nulisnya. :-D
Dengan sambutan semangatnya itu dalam hatinya tanpa ada risau. Rasanya hari harinya lebih penuh warna. Walaupun tak semuanya indah. Namun ada saja yg menutupi rasa kesalnya itu. Hari itu ntah apa yg membuatnya kembali menengok gadis baru itu. "Nyaman itu pasti ketika melihatnya. Apalagi kalo pas senyum" dalam hatinya. Benar benar teracuni dengan keadaan. Hatinya seakan lupa dengan semuanya. Mungkin terlalu berlebihan. Tapi itu faktanya, dan bukan mainan. Tak berlebihan sebenarnya. Taj mahal aja dibuat karena atas dasar cinta. Semua sah sah saja asal tak menyakiti satu sama lain.
Otaknya berfikir dirinya tak mundur. Walau gunung dan laut terlihat didepannya. Api berkobar pun dia terjang. Go a head. Pantang berhenti apalagi balik ke tempat awal. Apalagi semangat dari temannya. Siapa lagi.. Mamad pastinya teman sekaligus partner kerjanya. Dengan motivasi dan arahan arahan sok dewasanya ia berceloteh. Maklum dua orang yg berbeda. Satu dewasa dan satunya masih senang bermain main. Tapi otaknya boleh dia adu loh. Hahaa
Suasana pengap dibilik kosannya sore itu. Dengan rasa lelah dari pulang kerja. Rutinitasnya yg kadang membuatnya kesal namun juga membuatnya tak kesepian.
"Yan, gua mau nanya geh" mulai mamad. "Ya apa" cuek iyan. Biasa, anak ini memang suka jail. "Gula merah harganya berapa satu kilo?" Lanjut mamad. "Emang gua jualan gula meraah?" Jawab iyan dengan cengar cengir. "Taik elu mah" kesal mamad. "Kalo kelapa berapa?" Tanya mamad lagi. "Kalo buat elu 10 rb mad" celoteh iyan. "Edan" mamad tambah kesal "pulanglah" mamad ngambek. "Huu, punya temen satu, jelek tukang ngambek lagi. Wkwkw" ejek iyan. Begitu memang kedua anak itu. Tak akur tapi itulah yg membuat mereka tak kesepian satu sama lain. Dengan celoteh celotehannya yg jadang tak masuk akal. Itulah harta bagi keduanya. Kadang teman yg asik dan bukan sok dewasa itu lebih menyenangkan. Walaupun lebih banyak mengesalkan karena jahil.
Hatinya seperti disemprot parfum. Terasa nyaman dipakainya hari itu. Terlebih temannya mau menuruti permintaannya. Yaps, foto bareng dengan gadis pujaannya itu. Mungkin cowo gila kali. Mungkin itu pantas buat iyan. Pasalnya gadis itu sudah punya cowok. Tapi ntah mengapa dirinya tak peduli. Rasanya kaya menemukan wanita yg dicarinya. Tapi mendaptkannya tak semudah menemukannya. Butuh fase fase yg tentunya menyakitkan. Dengan hambatan hambatan yg dilaluinya untuk bisa menuju ke fase metamorfosis yg sempurna.
"Kecenderunganku itu karnamu.
Kelemahanku itu mengagumimu.
Kelebihanku itu saat mengejarmu, dengan menahan semua yg ada.
Semangatku itu senyummu.
Lukaku itu perbuatanmu.
Dirimu itu ku mengejar.
Bersamamu itu impianku.
Daan...
Kau baca ini.
Itu membuka jalanku untukmu.
Aku tak berhenti.
Dan jangan terus berlari"
For you.