Oh kecoa.. oh kecoa.. bruk''' gubraakkk... tengah malam. Angin dingin dengan suara suara misterius. Tung tung tung, bunyi kentongan tua pinggiran kota. "hiih, kampret masuk baju" diambilnya kecoa dalam baju iyan yg tengah tidur pulas. Dengan iyan berada dipaling pojok bilik kosannya. Bersama 3 rekannya kala itu. Maklum anak muda suka main sambil numpang tidur. Itung itung piknik malem nyobain hotel onel :-D
"Nah, kecoa" dipegangnya dengan tangan kanan. "Buang kemana ini, kiri balik ke gua lagi. Aih, bodo amat" bussh dibuang ke kanan tempat teman-temannya tidur pulas. Skrkrkkrkrk... ribut teman sebelahnya. "Apa ini ?" Tanya agus dipegang sambil diliat. Nyawanya belum kumpul, kalo udah kumpul mana mungkin mau pegang. "Keripik bro, tauk jatoh dari atas" sahut iyan sambil nahan tawa. "Hii, gerak gerak. Hoi, kampret" kaget agus lihat benda yg dipegangnya bergerak. "Hahaa, masukin kebajunya amri" suruh iyan. "Yhhh masuk :-D" biarin, biar tambah bersih kulitnya hahaa lanjut agus. "Parah elu" sahut iyan. "Ben" agus tanpa peduli. Jam 3 memang jamnya mengantuk. Tanpa disadari pun mereka tidur pulas lagi sampai pagi.
Matahari yg amat terik, pagi itu dalam genggaman semangatnya. Tekad yg kuat untuk jalani hari ini. Awal dari kebangkitannya. Seperti biasa, rutinitas yg membosankan. Mandi sarapan cuss lagi kerja. Itu itu aja, dan mau apalagi. Itu pilihan hidup walaupun bukan maunya.
Grek greek..
standar motornya. Parkiran belum penuh, karena sangat paginya iyan berangkat. Tak seperti biasa. Usut usut ternyata ada yg nebeng. Hhiihii pantes pagi banget. "Mad, sini !" Suruh iyan ke partner kerjanya. "Apa ?" Tanya mamad. "Ayok masuk" sambil masuk iyan berceloteh dengan partnernya "gua gak abis pikir mad. Kok bisa sih dia pilih anak itu. Heran gua" penasarannya. "Yaaa, mungkin dia khilaf" jawab mamad bercanda. "Taik lah. Coba geh mad, kalo elu cewe. Elu bakalan pilih gua apa anak yg satu itu ?" Tanya iyan. "Gila elu mah, males lah gua jadi cewek" terang mamad. "ya bukan jadi cewe juga. Misalnya, kan gua misalnya sih mad" kesal iyan. "Gua pilih elu ajalah, kan elu temen gua" celoteh mamad menambah suasana menjadi panas. "Dah dah daah, sana sanaa. Tanyain serius malah kaya gt" iyan tambah kesal. "Ya elu geh aneh" ungkap mamad. "Bodo!!!" Iyan makin kesal.
Anak aneh yg kasmaran memang. Tanpa sadar terkaman cinta yg dialaminya membunuhnya secara perlahan. Dengan pelan pelan pelaan dia jalan sambil menunduk menuju meja kerjanya. Yaps, masih seperti kemaren. Pantang untuk memandangnya lagi. But, it's not easy. Pikirnya dengan beragam loginya makin tak masuk akal. Dengan benturan benturan dinding jantungnya yg berdetak kencang seakan digiring ke kandang singa.
Dengan mengerahkan segala kemampuannya agar tak menoleh ke cewek idamannya itu. Tuan puteri dia menyebutnya. Seperti cerita cerita pangeran saja memang.
Rencananya memang terlihat berjalan mulus, sekalipun tak melihat gebetan disebelahnya itu. Eith eith, hampir saja iyan menengok. Eith, hampir lagi. Eith eith, noo. Iyan menyerah dengan keadaan. "Ya Tuhaan, dia cantik hari ini. Beruntung orang yg bisa membimbingnya kelak" kagum iyan. "Ah, bukan milikku. Dia tak peduli denganku" lanjut dalam hatinya. Hari itu semangat kerja. Tapi, semangat itu cuma bentar. Seperti bikin api dikayu basah pake kertas. Semangatnya cuma sebentar. Tanpa basa basi dia lanjut kerja sampai pulang. Dengan rintikan air ujan yg jatuh secara perlahan dia pulang dengan temannya. Dia juga teman gebetannya. Tanpa sadar ternyata gebetannya berada didepannya dibonceng laki laki yg juga berasal dari daerah yg sama dengan iyan.
Brumm... suara motor digasnya sampai depan pintu kosan. Dengan otak yg telah penuh racun itu butuh refresing baginya. "Beli buah yuk gus" ajak iyan beli buah. "Sok orang sehat aja elu beli buah" celoteh agus. "Biasa bro, biar tambah cakep. Hahaa" gurau iyan. Mereka berangkat dengan posisi iyan dibonceng agus. Anak muda yg arogan, naik motor pantang pelan. Slogan yg pas buat agus. Puuukng pukkkknggg ngggg suara gas motornya. "Woy, goblok. Ini motor emak gua. Hoi. Gua masih muda gus"takut iyan. "Tenang aja, gua juga gak mau jatoh. Goblok" bantah agus. "Woy. Tulul. Ditilang polisi kita ntar. Males lah gua. Gua aja yg bawa" iyan tambah khawatir. "Ngga, tenang aja sih" kesal agus. Ciiit, sampi di Istan Buah.
Kedua anak muda itu masuk. Dengan sok pede sok col melihat lihat buah yg disediakan. Karena banyak banget jenisnya sampai bingung mereka milihnya. Akhirnyaaa "kita ambil satu satu aja" ide agus. "Bener juga :-D" lanjut iyan. Tanpa pikir panjang. Mereka memilah milah buah di tempat itu. Lama banget mungkin pikir mba yg jaga. Kedua anak itu tak tampak mengambil satupun buah yg tersedia. "Elu ngapa blm ngambil gus ?" Tanya iyan. "Bingung gua, mau ngambil ntar ditaruh mana buahnya? :-D" jawab agus. "Hahaa sama wkwkwk" ketawa iyan :-D
10 menit mereka pura pura memilah buah yg ada. Tak lama ada pengunjung masuk yg juga membeli buah. Ternyata eh ternyata gulungan putih itu plastik. Hahaa
"Ini plastiknya. Liat liat mba itu td ngambil plastik ini" kata iyan. "Iya, ayo ambil :-D" lanjut agus. Mereka mengikuti mba pengunjung itu sambil melihat cara belanjanya buat ditiru. Namun sayang, mereka gak memperhatikan dengan seksama. Ding dong, buah yg mereka ambil langsung dibawa dikasir. "Maaf mas, ditimbang dulu buahnya disana" kata mba kasir. Sambil menahan malu iyan dan agus cuma mengangguk. Buah ditimbang lalu balik kekasir lagi. Cetek cetekk cetekkk suara di kasir itu. "Totalnya, 210rb mas" kara mba kasir itu. "Haaa" keduanya terkejut. "Gila mahal banget" pikir iyan dan agus. Dengan muka agak agak puas. Puas menguras dompet maksudnya. Mereka balik kekosan. Hari yg lebih baik dari iyan. Dengan tambahan semangat dari sikap gebetannya yg nampak baik baik aja. Dengan hati lurusnya dan tekadnya untuk mengejar tanpa lelagh. Walau hati yg dikejarnya bagaikan mencari oase di padang pasir yg amat panas dan tandus. Semangat pantang menyerahnya yg selalu jadi senjatanya selama ini. GOD IS ALWAYS CLOSE TO US!
posted from Bloggeroid