
"Dentuman petir terbalut kencangnya angin malam.
Hawa dingin menusuk dengan perlahan lahan menuju jantungku
Denyut nadi yg semakin tak menentu
Aku bertanya "Tuhan, apa lagi ini?"
Secelup jariku mengaduk remuknya hati ini.
Yakinku, ini akan baik baik aja"
Semilir hawa dingin ditemani lampu lampu terang. Terlihat betapa indahnya gemerlap malam itu. Perlahan mencoba merasa rilex dengan semuanya. Sudah mulai merasakan semangat dan menata kembali jalan hidup yg dipilihnya. Ya, pemuda pembisnis. Planing lamanya kembali digarap hari itu juga. Namun, tak mulus seperti yg diharapnya. Hati yg tertusuk semakin tertombak dengan himpitan keadaan. Ayah yg dicintainya tiba tiba jatuh sakit. Hati yg sangat terpukul bagi iyan. Pasalnya belum lama adiknya juga harus okname karena DBD. Dan kali ini ayahnya juga harus okname.
"Ya Tuhaan, cobaan apalagi buat keluargaku ? Kenapa Engkau beri cobaan yg begitu berat ? :'(" tanya iyan dalam hatinya. Dalam sedu sedih hatinya mengantar ayah ke rumah sakit. Tetesan air mata mengiringi perjalannya. "Ya Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini. Aku tau aku bukanlah hamba yg taat atas perintah-Mu. Aku mohon sembuhkanlah ayahku" iringan doanya disepanjang perjalanan. Sambil memegang tangan ayahnya dia menatap dengan tatapan penuh harap.
Dengan keadaan yg begitu pedih ditambah cobaan yg diterimanya. Memang sangat sulit untuk bisa tersenyum. Dia diam tak bersuara tak menangis namun air matanya tak bisa ikut diam. Walau berulang kali dia berusaha menahan. Tapi tak pernah berhasil. Hatinya merintih "ya Tuhan, aku terima apabila wanita yg kuinginkan menjauh. Asal jangan Engkau jauhkan ayahku. Aku mohon sembuhkanlah ya Tuhaan. Aku mohoon" selalu dia berharap dan berdoa. Hanya itulah yg bisa dia lakukan. Berjalan kesana kemari menunggu ayahnya. Namun hatinya yakin. Ayahnya pasti baik baik aja.

Sepanjang malam itu tanpa tidur baginya. Layaknya semua orang. Takkan tidur saat anggota keluarganya sakit. Berharap dan berdoa menjadi ritual disepanjang malamnya. Dengan penuh kesedihan dia lalui. Namun ntah ada apa dihatinya. Wanita itu selalu membayanginya. Malam itu dia bertanya tanya. "Apa yg membuatnya tak mau lagi kontekan. Apa mungkin gara gara bilang gwa suka sama dia. Lantas kalo gwa sekarang bilang benci apa dia masih mau kontekan lagi. Aarghh" kesalnya. Tak lama lama dia memikirkan wanita itu. Langsung diambilnya air minum untuk diberikan ke ayahnya. Hari itu iyan tidak makan hampir 2 hari. Bukan karena gak nafsu, ataupun kurang enak makanannya. Dia takut, siapa yg akan menunggu ayahnya jika ditinggal keluar cari makan. Ibunya memang tidak menunggu ayahnya. Adiknya juga sakit, mau gak mau harus pulang agar adiknya tidak semakin sakit.
Hari hari itu nafas dihelanya dengan perlahan lahan. Menatap kembali masa depannya. Yang semakin lama serasa semakin jauh. Semangat yg kurang dan bukan tanpa tidak ada semangat. Namun kehadiran seseorang yg diharapnya memberi semangat memilih untuk menjauhinya. Dengan penuh kepenatan hatinya ia terpogoh menata kembali hari harinya. "Siap tempur" dalam hatinya. Dalam keadaan ayah yg belum sembuh memberinya semangat lebih kala itu. Kembali dibangunnya lahan bisnis yg sempat berhenti selama sebulan. Dengan bantuan suntikan dana pribadinya ia pertaruhkan untuk kembali merajut bisnisnya itu. Katanya "lebih baik kehilangan masa muda dibanding kehilangan masa depan" dengan penuh keyakinan dan berdoa penuh harap. Dengan usaha kerasnya iyan berharap kelak dapat membantu menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitarnya. Walau dengan keadaan hati yg tercacah oleh keadaan dan terbalut dengan rasa pedih yg membara seperti api abadi. Dengan yakin dan tekad kuat. "Bergerak" slogannya untuk mengatasi rasa malasnya.
ADS HERE !!!