
Mulai 1 Mei Untuk Hari Nanti Episode #1.
Cuit cuit ssstttt'' cerianya burung depan kosan mengawali hari ini. Senyum mentari melengkapi riuhnya burung burung yg bernyanyi. Menyambut keagungan Tuhan YME yg terlihat atas dasar pagi itu.
"Gubrakk!!!" Muka kusut 2 orang anak muda bangun. "Bruk bruk" wajar, anak kost yg jauh merantau dari seberang kota. Satu namanya AGUS manis tapi item tapi motornya bagus tapi gokil tapi mulu gak ada abis tapinya :-D satu namanya SEPTIAN ganteng, putih, hahaa. Sedikit nyerempet itungannya kalo dari ujung monas. Satu lagi makhluk kosan AMRI makhluk paling baik tapi paling tidak jujur.
"Kontakku mana, woy kuncii. Yan yan tau kunci" sibuk agus bangun tidur. "Taik lah, cari aja diberas sono" sahut iyan kesal. Maklum lagi patah hati. "Gilaa elu ya, kira mau dimasak apa. Kunci di beras :->" jelas agus. Srrrrkkk''' suara agus cari kunci motor.
Mandi pagi sarapan cuuss berangkat kerja. Walaupun tanpa semangat tetap memenuhi kewajiban diperusahaan. Perjalan yg membosankan dari kosan ke pabrik. Ituu aja. Sekali kali kek pesawat terbang jatuh di jalan. Hihihii
Tuiiin tuiiiin bel diperusahaan bunyi. "Jam berapa sih udah masuk. Salah itu jam perusahaan. Huh tulul" pikir iyan. Orang yg sakit hati itu pasti seperti itu kan. Maklum lah ikan lari didepan aja bisa bikin emosi apalagi tuin tuin bel. Masuk dengan tundukan kepala tanpa lihat dia. Tanpa lihat dia. Tanpa lihat diaaa :-(
"Aku gak akan lihat kamu. Aku gak akan lihat" pikir iyan pagi itu. Hari itu memang harus diam. Tanpa diam hati akan terasa pahit baginya. Lelahnya kerja tidak seberapa dibanding lelahnya hidup yg dipikirnya. Dengan hati terenyuh amat perih buatnya kala itu. "Why??" Kenapa kata iyan kala itu bingung. "Kenapa dia gak mau sama gua. Apa sih sebenernya yg dirasanya. Sepertinya dia sering liat gua. Hah, You don't know everyting" lelah hatinya berfikir.
Dalam perjalanan hari itu kerjanya tanpa semangat. Dalam angannya hanya anak baru ituu. "Andai dia tahu apa yg gua rasa. Tau ngga sih rasanya gua. Ya Tuhaan apa lagi ini. Apa lagi yg mau gua temuin. Hidupku gua hancur ya Tuhaan" kecewanya. Semangatnya jauh menurun drastis. "Town town town gak rasa apa hatinya buat gua. Gua cinta sama elu. Liat gua, gua cinta sama elu. Denger ngga??" Kata hati iyan.. berharap Tuhan menyampaikan kata hatinya buat anak baru itu.
Terang terang hari itu mulai panas jam 12 hadir mentari menyengat. Tanpa sadar keringat cus cuss cusss mengucur. Hati pun cesss cesss panas ketika dia liat cowo lain. Brukk cemburu abiss.
"elu diem aja?" Tanya mamad. Anak ini satu partner dengan iyan diperusahaan. "Gak papa, dia mau gak ya sama gua. Keliatannya gak mau" dengan sedikit senyum sahut iyan sembunyikan perasaannya. "Boy, gua kenal elu pertama masuk semangat pantang menyerah. Gua ceritain. Elu deketin dia, ibarat elu nanem pohon. Pohon kalo elu pupuk pasti buah. Buah itu elu ambil bro. Inget yg nanem pohon bukan elu doang" semangat mamad. "Kalo gak dipupu" celoteh iyan gak peduli. "Ya elu tau sendiri kan. Goblok. Gua kasih tau, elu jangan kebanyakan mupuk, mati kalo kebanyakan pupuk. Inget, taneman elu masih kecil boy" lanjut mamad. "Terus kalo udah mati" tanya iyan serius. "Punyamu kan belum mati boy. Elu kenal belum lama masih mulai nanem. Sabar mupuknya" semangatnya lagi. "Punya gua udah mati. Mati punya gua. Haaah ya Tuhaaan" teriak hati iyan. Sepanjang hari itu tanpa semangat dilaluinya. Dari pagi merenung sampai sore sampai ambil gaji sampai balik kekosan.
Kreek, gesekan pintu kosan warna kuning bercampur air terpaan ujan. Bushh... berantakan sambut hari harinya. Beres beres beres lagi.
Tut tutt tut, hapeku bunyi. "Ini smsnya" pikirnya. "Oh Tuhaan, bukan :-(" kecewanya. Cetok cetok cetok telunjuknya "kamu kenapa gak bales smsku ?" Penasarannya. Dengan penuh harap ada sms masuk. Ditatapnya layar hape yg tak kunjung hidup. Tut tut tut... suara hapenya. "Udah dibales" leganya pikir iyan. " Gpp kak aku cuma gamau aja nyakitin kakak, aku jujur kak aku suka nya sma kakendri, maaf ya kak kl aku ngejauh" tes tes tes air mata bicara kali ini. "Why?? Kenapa dia pilih endri? So, apa salahku? Ya Tuhaan hidupkan lagi tanamanku ya Tuhaan. Aku mohon :'(" kecewanya membaca pesan singkat dari gebetan. Semenjak itu senyumnya senyum bohong. Itu bukan senyum tangis kecewa dihatinya. Hatinya memang benar benar hancur. Sambil berdoa berharap semoga tanaman yg dibicarakan partner kerjanya tumbuh lagi. "Ya Tuhaan aku gak percaya :-(" kesal iyan. Lembutnya wajahnya menyimpan senjata mematikan buat hati yg berada didekatnya. Dalam angan yg terlupakan itu teringat suatu saat ketika akan kembali sebuah tanaman tumbuh ditanah yg kering kerontang. Hanya dirinya lah anak baru itulah yg bisa membantu tumbuh tanemannya selain Tuhan. #kamu cantik menarik tapi aku sakit. Semangatku tidak jatuh. GO A HEAD
posted from Bloggeroid