
Endapan luka mengais remuknya hati. Tak ada perisai lagi buat melawan. Terkait semuanya hanya pengertian hati yg bisa menahan sepenuhnya. "Kalo dia ngejauh yaudah jalani aja. Yg penting aku tetap mengejar. Wajar sih kalo dia ngejauh. Karna aku kejar mulu" sad sad sad.
Nano nano rasanya. Makin hari yg makin rumit. Kali ini ia pasrah dengan cerita cintanya. Pasrah bukan berarti menyerah. Hanya saja kerap merasa lelah. Tapi tetap saja itu bukan menyerah. Kerumitan tidak hanya dimasalah percintaan. Bisnisnya yg kembali dikembangkan kembali menuai masalah. Dari ready stock yg tidak lancar sampai penolakan buyer terkait kualitas. Dengan dua jenis bidang yg digarapnya. Kedua duanya masih diambang mengkhawatirkan. Keadaan ini semakin mematahkan impian dan planingnya. Ada hal memang yg membuat motivasi pada hidupnya. Sebenernya bukan uang banyak yg di inginkannya. Itu juga di inginkan tapi tak sepenuhnya. Yg terpenting pekerja yg dia rekrut bisa makan. Sebenernya cuma itu. Ada perhitungan dibalik semua itu. Tapi itulah rahasia pembisnis. Tak ada yg tau tentang itu.
"Darimana gua mulainya. Kacau!" Keadaan yg menuntutnya bersikap rasional. Gak menentu ruang perjalanannya. "Ayo maju" slogannya. Anak muda harus pantang menyerah disemua hal. Kadang pola pikir dan idenya sangat sangat konyol. Tak ternuai dengan keindahan yg fana.
Hari itu perjalanannya sangat melelahkan. Tuuutt..tuuttt..tuttt.. suara dering telponnya. Dengan tulisan dilayar "memanggil..." ckkkrk.. diangkat. "Hallo, dengan pak Erfi ya ?" Sapa Iyan. "Iya, ini dengan pak Septian dari Marina Coco itu ya?" Jawab pak Erfi yg merupakan eksportir cocopeat. "Iya pak, maaf nih pak mendadak. Untuk bulan ini kami tidak bisa menyuplai kebutuhan ekspor cocopeatnya. Sebelumnya kami minta maaf. Kendalanya di cuaca pak" ungkap iyan. "Waduh, baru saja saya udah fix sama perusahaan xhandong. Kontrak 12 bulan pak." Lengkap pak Erfi. "Sekali lagi kami minta maaf pak. Soalnya biaya produksi kami naik. Bahkan selalu minus. Selain itu barangnya semakin menurun." Sesal iyan. "Waduh, terus gimana pak?" Risau pak Erfi. "Ya harus gimana lagi pak. Saya mau konfirmasi dari kemaren. Tapi kan saya coba lihat dua hari kedepan. Untuk bisa konfirmasi hasilnya. Harap maklum pak" lengkap Iyan. "Oke, saya coba cari penyuplai dari lamsel dulu. Tapi ini ya pak. Saya mengharapkan suplai dari Marina secepat mungkin." Sambung pak Erfi. "Iya pak. Makasih atas pengertiannya. Akan kami usahakan" tandas Iyan. Begitu kira kira percakapan keduanya. Otaknya makin puyeng. Berfikirnya harus dua kali lebih ekstra. Dia pun masih kerja diperusahaan itu pula. Tak berhenti keluar ataupun nengundurkan diri. Gajinya tak seberapa. Buat bayar gaji karyawannya saja tidak cukup. Tapi uang segitulah yg membuatnya seperti sekarang. Sehingga dirinya tak lupa dengan asal muasal semuanya. Motorpun tak mau mewah. Kenapaa ?? Karena ditempat kerja. Ya, itu benar. Dirinya tak mau berlebih. Tak lain karena dia malu dengan pekerjaannya. "Gila aja kerja cuma kaya gini mau bawa moge. Malu lah. Apalagi bawa mobil nggak deh" pikinya geli sendiri melihat orang orang diperusahaannya membawa moge sambil membusungkan dadanya. Bukan iri atau apa. Dia pun punya dirumah. Bukan sekedar moge, mobil pun sudah ada. Sedikit pamer ya :-D tapi entah apa yg dibayangan iyan. Selalu saja kurang. Mungkin orang lain tak akan mau kerja lagi kalo sudah diposisinya. Tapi dia tak begitu. Bahkan saat kerja dia memakai baju agak bagus aja malu. Gak tau karena apa.
"Hati ini bukan tak punya rasa lelah. Punya bahkan sangat lelah. Tapi pikirannya merujuknya terus. Tak ada yg tak mungkin. Awan aja bisa jatoh. Terbukti loh. Bukan cerita fiksi. Apalagi hati orang. Pasti bisa!!!"