"Satu lima satu enam. Tiga puluh bukan lima. Dua dua" sibuk amri salah satu penghuni kosan ngejreng itu. Sibuk ngitung duit rupanya. Ngitung dengan cara abstrak yg dia miliki. Cus cus cus caranya ngitung. Dengan logat khasnya. "Eghem, biasanya kalo banyak duit langsung gorengan. Biasanya tapi. Eghem" sindir iyan. "Eghem juga" sahut amri. "tapi emang iya kok yan. Kalo banyak duit biasanya pengertian" imbuh agus. "Biasanya sih gitu gus. Gorengan abis itu bakso terus ntar somay. Biasanyaa" imbuh iyan. "Biasanyaa" lanjut agus. "Taik taik. Duit tinggal segini boy. Mau gwa beliin tapi gimana gitu. Ntar dikira gimana kalo gwa beliin. Kan gak enak" tahan amri menyangkal sindiran kedua bocah dihadapannya. "Bilang aja pelit. Huu" agus dengan nada ejekannya. "Tapi amri orangnya gak pelit kok gus, ntar dibeliin gorengan sama somay. Gak pelit amri tuh" dengan sok baik iyan melanjutkan aksinya. "Iya, itu ntar pulang bawa gorengan. biasanya kalo orang baik itu pacarnya cantik" lanjut agus. "Heleh, dikira gwa anak kecil :->" terang amri tak kental dengan bujukan kedua temannya itu.
Cuss berangkat kerja lagi. Brrr dingin menusuk tulang. Merobek tebalnya jaket ditubuh. Embun pagi yg menusuk urat nadi. Menghentikan sejenak jantung yg berdetak. Dengan senjata sejuknya menemani manusia manusia yg butuh hirupan nafas segelintir isapan belaka. Ciiitttt... "sial!! Kucing!!" Motornya mendadak mengerem. Melintas kencang seekor kucing dengan tubuh loreng. Bruumm... lanjut digasnya kembali sampai tempat parkiran diperusahaan tempat ia menemukan gadis molek itu.
Ngiiinggg suara bising mesin mengawali paginya. Bukan kepalang namanya namun pengen pulang. Rasa ngantuk yg tumbuh di pagi itu. Membuat pandangannya remang remang. Seperti biasa, setiap kali sampai pertama yg dilihat kekanan. Ya, tak lain adalah cewek baru itu. Sampai sekarang tak bisa dipungkiri. Pandangannya tetap tak bisa lari dari cewek itu. Disela sela kerjanya tetap saja mencuri pandangan ke wanita pujaaannya itu. Tuan puteri yg menyadarkan betapa besarnya kuasa Tuhan yg menciptakan makhluknya yg sempurna sesempurna-purnanya. Namun sayang karena perbedaan shift hari itu. Membuat iya tak bisa mengarahkan pandangannya ke cewek gebetannya itu.
Kurang semangat, ngantuk, malas dan bosan. "Lama banget geh jam sepuluhnya" Kesal iyan. "Aneh, baru masuk udah nanya jam sepuluh" jawab mamad. "Kan kalo udah jam sepuluh semangat bro" jelas iyan. "Bilang aja mau ngeliatin cewe itu. Iya kan ?" Terang mamad. "Hahaa iya" iyan dengan agak malu menjawabnya. Semangatnya makin terpacu memang ketika melihat cewek baru itu. Pikirnya semakin lama bukan semakin jelek tapi malah semakin cantik. Haahh.. maklum cowok pasti kaya gitu.
Caranya bertahan memang luar biasa. Itu menurutnya, pandangan orang berbeda berbeda. Sebenernya sakit itu pasti. Semua penantian pasti menyakitkan. Tau sendiri kalo nunggu angkot yg lewat truk mulu. Jengkel kan. But, iyan tak kunjung berhenti menunggu cewek idamannya itu. Niatnya yg kuat sampai hatinya bolong pun gak kerasa. Mengeluh cuma dalam hatinya. Banyak memang yg menyukainya. Itu pasti. Iyan pun sadar akan hal itu. Namun, always strong! Semua itu diibaratkan main bola. Didepan banyak lawan yg menjaganya. Namuun, apapun caranya akan ia lakukan agar bolanya lolos masuk ke gawang dengan tak melanggar aturan
Sela sela kerjanya selalu ngeliat jam. Menunggu jam sepuluh pastinya. "Wow, dia datang. semangat ini" pikirnya. Lucu ya, kaya difilm film ftv itu. Namun itulah keunikan cinta. Ambang batas yg tersirat. Susah buat ditebak apalagi buat dijinakkan. Dan sekali lagi pikirannya sekarang memang teracuni olehnya. Namun magic, bukannya malas dia lebih semangat. Bahkan muncul ide ide baru dalam hidupnya. Dan planing yg pelan pelan mencoba diselesaikannya. Cuuuss melesat hatinya. Bruuum disentak semangatnya. Take action, now! Semangat hatinya.
Give me your love. I'll keep it. I will maintain wholeheartedly . I will not release. Remember that. My heart is sure to you . I will always forced this . I'm still waiting for you. Last. And continue to survive .